Sejarah batik danar hadi
Museum berarsitektur Jawa Kuno yang diresmikan Megawati Sukarnoputri tahun 2000 ketika beliau masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI ini terdiri dari sebelas ruangan, yang dipergunakan untuk memajang koleksi batik kuno Santosa Doellah yang terbagi menjadi sembilan jenis batik sesuai dengan tema dari museum yaitu “Batik Pengaruh Zaman dan Lingkungan”.
Batik merupakan warisan budaya yang penting untuk dilestarikan. Bahkan UNESCO telah mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia. Danar Hadi merupakan salah satu produsen batik yang terkenal di kota Surakarta. Selain memproduksi batik dan melakukan inovasi produk, Danar Hadi juga melestarikan budaya yang adiluhung ini dengan mendirikan sebuah museum, yaitu Museum Batik Kuno Danar Hadi.
Beragam corak, motif dan jenis kain batik dari seluruh nusantara menjadi koleksi Museum Batik Kuno Danar Hadi. Koleksinya bahkan mencapai 10000 helai kain batik, sehingga museum ini diakui oleh MURI (museum rekor indonesia) sebagai museum yang mempunyai koleksi kain batik terbanyak.
Pemilihan tema “Batik Pengaruh Zaman dan Lingkungan” ini memang tak lepas dari pengalaman dan pengamatan Santosa yang sejak berusia 15 tahun menggeluti dunia batik. Menurut beliau, setiap helai batik pada warna dan polanya akan dipengaruhi oleh zamannya dan atau lingkungannya.
Bagian menarik lainnya adalah ruangan Batik Kraton yang memiliki nilai filosofis pada setiap helai batik yang dipamerkan. Batik Kraton Surakarta, misalnya, batik ini sudah mulai dikenal pada abad ke-17 pada saat sudah diciptakannya canting tulis.
Pola-pola batik dengan pengaruh budaya Hindu-Buddha selain pengaruh kepercayaan Jawa dan Islam merupakan ciri khas batik-batik Kraton Jawa. Dari Budaya Hindu, ornamen yang ditampilkan seperti Garuda, Pohon Hayat, dan Lidah Api. Dari budaya Budha ornamen-ornamen Swastika, sedangkan pengaruh Jawa tercermin dari penataan motif-motif tertentu dalam aliran Moncopat, dan pengaruh Islam ditandai dengan tidak adanya bentuk manusia sesungguhnya dalam motif-motifnya.
Dijelaskan Asti, batik-batik kuno ini mulai dikumpulkan Santosa sejak tahun 1967, baik yang berasal dari leluhur-leluhur beliau maupun pembelian dari para kolektor. “Batik itu seperti halnya lukisan, semakin kuno maka nilainya akan semakin tinggi. Contohnya Batik Belanda di museum ini yang sudah bernilai di atas Rp 300 juta per kain,” beber Asti.
Penataan batik kuno di Museum Danar Hadi ini juga dipadukan dengan perangkat-perangkat etnik Jawa maupun perangkat lain yang disesuaikan dengan kain batik yang dipajang, sehingga menjadikan museum ini berbeda dengan museum-museum lainnya.
“Lewat museum ini, diharapkan apresiasi masyarakat terutama generasi mudanya terhadap seni kerajinan batik yang merupakan warisan budaya bangsa bisa semakin meningkat,” harap Asti.
Sejarah Batik danar Hadi,Batik danar Hadi,Batik Indonesia
Sejarah Batik danar Hadi
#BatikDanarHadi, #BatikIndonesia, #SejarahBatikDanarHadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar