Sabtu, 04 April 2015

Sejarah dan Filosofi Batik Madura

Sejarah dan filosofi batik Madura

Sejarah batik Madura sudah ada sejak zaman kerajaan. Kain batik Madura mulai dikenal masyarakat luas pada abad ke 16 dan 17. Hal ini bermula ketika terjadi peperangan di Pamekasan Madura antara

Raden Azhar (Kiai Penghulu Bagandan) melawan Ke’ Lesap. Raden Azhar merupakan ulama penasihat spriritual Adipati Pamekasan yang bernama Raden Ismail (Adipati Arya Adikara IV). Sedangkan Ke’ Lesap merupakan putera Madura keturunan Cakraningrat I dengan istri selir.

Dalam peperangan itu, Raden Azhar memakai pakaian kebesaran kain batik dengan motif parang atau dalam bahasa Madura disebut motif leres yakni kain batik dengan motif garis melintang simetris.Ketika memakai kain batik motif parang,

Raden Azhar memiliki kharisma, tanpak gagah berwibawa. Sejak itulah, batik menjadi perbincangan di kalangan masyarakat Madura, terutama pembesar-pembesar di Pamekasan.

Batik motif parang merupakan pakaian kebesaran para raja terutama di Jogjakarta dan Solo. Konon, rakyat biasa pantang memakai. Kendati demikian, di zaman modern ini yang memakai batik motif parang bukan hanya raja. Semua orang boleh memakai agar tampak berwibawa. Dalam kehidupan sehari-hari, batik motif parang biasanya dipakai dalam acara resmi, misalnya rapat atau menghadiri undangan pernikahan. Hal ini sesuai dengan filosofi batik parang yakni menampilkan kewibawaan.

Seni batik Madura diperkirakan masuk sejak tahun 1293, yang terus berlanjut hingga abad ke-17. Saat itu, kerajaan Sumenep di pulau garam ini dipimpin oleh Ario Prabuwinoko. Oleh adipati ini, batik madura mulai dikenalkan sebagai warisan leluhur yang berbeda dengan batik milik suku Jawa yang sangat beragam.

Di pulau garam ini, tiap daerah pun mempunyai corak dan warna yang sngat . bermacam. Hanya saja teknik pembuatan secara umum hampir sama dengan batik Jawa, di mana mencorak kainnya dengan canti dan menggunakan bahan perintang dari “lilin” (wax). Warna yang berkesan tegas dan co: yang mengartikan unsur alam membuat beberapa dari konsumen batik mulai tertarik batik Madura ini. .

Mungkin karena dikenal sebagai pulau penghasil garam, maka batik madura banyak bercorak dengan titik-titik berwarna putih, layaknya butiran garam yang dihasilkan pulau utara pulau Jawa Timur ini. Dot pattern ini semakin sering menjadi ciri utama batik Madura. Selain itu berbagai ornamen flora atau pun fauna juga dijadikan corak utama pada batik ini.


Sejarah dan Filosofi Batik Madura,dan Filosofi Batik Madura,Batik Indonesia



Sejarah dan Filosofi Batik Madura

#BatikIndonesia, #DanFilosofiBatikMadura, #SejarahDanFilosofiBatikMadura

Tidak ada komentar:

Posting Komentar